Tiga Soneta Buat Medha Aninditta
(1)
Pohon mangga depan rumahku. Terkurung di balik pagar
Kerdil, cuma bisa berbisik kecil
Merayu tetangga pekarangan seberang
Yang juga sepucuk pohon mangga sama kerdilnya
“Alangkah elok dirimu,” ucapnya penuh madu
“Sudikah kupeluk kau kelak suatu hari?”
Yang ditanya tidak mengelak tak pula mengiya
Hanya tersipu sembari desau menisik di dedaunannya
Dan setelah rindu mengendap dalam bilangan tahun
Pohon manggaku kini telah tinggi lagi rimbun
Dedahanannya tersuruk antara selangkang ranting
Pohon mangga tetangga yang pula tampak perkasa
Melihat sepasang pohon mangga depan rumahku
Desah menyelinap, “kapan kubisa rangkulmu seperti itu?”
Di bawah pohon mangga, 27 Juni 07(2)Hujan sepanjang hari ini, sayang
Aku tergeletak membaca Pram
Sembari mengemut sekeping gula aren
Pengganti permen. Manisnya membuat lapar terlupa
Tidak benar-benar lupa. Hanya sekedar tertunda
Karena lapar sendiri yang bisa buatku lupa
Pada keindahan apa pun di segenap ceruk bumi
Tak termasuk engkau. Sungguh.
Lalu kuputuskan menutup buku tebal itu
Dan janji membukanya lagi suatu waktu
Sebuah buku lain menyedot perhatianku
“Ah, kumpulan esai. Menarik.”
Kutelusuri tahun terbitan berikut tempatnya
: Solo. Aku langsung teringat dirimu.
Idefix, 27 Juni 07
(3)Dalam episode mimpimu. Yang paling kelam sekalipun
Bayangnya tak pernah punya ruang
Haruskah menyelinap?
Seperti bulan yang mencuri waktu tidurnyaDalam tangis sedihmu. Yang paling gersang sekalipun
Sosoknya tak kunjung dapat celah
Nyaris terendap
Karena cintanya pada yang terlelapDalam bait syairmu. Yang paling picis sekalipun
Namanya tak juga miliki tempat
Termadah luruh
Direngkuh bahu seorang rapuhDia bukan mau sepi
Dia hanya ingin sendiri
Rumah badai, 29 Juni 07
catatan: Sedikit banyak inspirasi itu datang dari lirik "Across the Night", sebuah lagu milik Silverchair.Labels: Soneta