Friday, July 06, 2007

Hikayat Sebuah Perigi

di bulan-bulan kemarau seperti ini
kuserahkan sepasang mataku padamu
galilah yang paling dalam dua perigi
masing-masing untukmu dan untukku

karena tanah telah banyak berkurang
untuk buat gedung berbeton tulang
pakailah sepetak di hatiku
untukmu. jadikan bakal perigi


galihlah lebih dalam, lebih dalam
air hujan itu tumbuh dari bawah,
galihlah lebih dalam, paling dalam
agar tubuh kita utuh bisa basah.

mungkin kau akan menemu gumpalan madu
gadis lugu atau apapun coba hentikanmu
galilah lebih dalam, sangat dalam
sedalam tatap sayu kekasih yang menunggu


Pada masanya timbah pecah
dan perigi mesti kita timbun,
lalu rumput tumbuh di atasnya
seperti pula daging-tulang kita.

tapi setidaknya kita pernah menggali
perigi buat minum dan singgah para musafir
tinggal kau buatkan untukku sebuah lagi
buat minum dan singgah seorang penyair


kolaborasi lewat ym lagi

Labels:

Tentang Umurku

waktu adalah susunan dari banyak noktah
sebagiannya menantikanmu. sebagian lagi
menjelma secangkir kopi susu.
kau pikir, bahagiakah aku?

seperti itulah adanya kebahagian itu
seperti kopi susu yang kau minum
hitamnya sesuai, putihnya sesuai
dan aku membantumu mengaduknya


mungkin tidak saat tatapku lepas
melintas rimbunan randu dedaunan ranggas
daun tempat umurku pula menetas
sangkamu, letihkah aku menunggu?

daun lerai dari pelukan dahan
bukan karena letih menunggu
dia ingin masuk lebih dalam
ke sumsum batang randumu


Ym jamil_djimar & luar kurung

Labels:

metamorfosis bibirmu dan telingaku

Di bibirmu dulu mekar bunga belukar dan rumput liar,
oleh bisikanmu, daun telingaku menjelma kupu-kupu.

Kini engkau pandai mengubah diri jadi orang lain,
mencium, memagut dan berbisik dengan bibir asing,
bibir yang ditumbuhi buku psikologi, layar televisi,
dan kutipan-kutipan yang penuh kosakata ayah-ibumu.

Maka untuk bibirmu kukutuk telingaku jadi kepompong,
menunggu lagi belukar dan rumput-rumput liar itu mekar,
yang dari dadamu sendiri seluruhnya berhulu dan berakar.

Labels:

sebelum tidur

/1/

Mimpi buruk selalu tiba sebelum aku tertidur:
usai menutup pintu dan memadamkan lampu,
kau datang menyalakan seluruh masa lampau.

/2/

Di antara semua yang kujaga dalam ingatan
dan semua yang kaupelihara dalam kenangan
ingin sekali kubangun sebuah persimpangan
tempat di mana sekali lagi kita akan berpapasan
sejenak saling bertukar pandang atau senyuman
kemudian memutuskan untuk memilih beda jalan.

/3/

Baiklah, sekarang kita bersepakat saja
ingatan akan terkubur dalam tidur kita
dan seluruh yang tumbuh di atasnyat
ak bernama dan bukan miliki siap-siapa.

Labels:

Thursday, July 05, 2007

Sejuta Nyanyian Dari Negeri Ibuku

Inilah negeri ibuku,
Tempat sejuta nyanyian menggugus di setiap napas
Sesuci tartil, semurni tilawah
Mereka takkan terdengar indah sampai kau benar-benar
Berniat mendengarkannya

Dengarkan lewat tempik sorak bocah-bocah bermain gundu
Atau aspal jalan mengecup telapak kaki mereka tak beralas
Mengejar layangan kertas. Lepas
Setiap libur, nyanyian berkelindan seperti jentera kapas
Mengejar layangan di pijakan udara bebas
Aku ingin dapat mencipta banyak hari libur
Bukan untuk anak-anak semata
Buat bapak-ibu di kantor mereka juga
Agar nyanyian tambah marak harmoninya

Ada yang bersipongang dari atap-atap masjid
Saban petang semenjak magrib
Tambah panjang tiba lebaran dan maulid
Nyanyian dirubung malam menjelma kupu-kupu
Merembes sampai ubun-ubun seorang nabi tak beribu
Lantas sebagai bulir rindu, mereka berenang di mata danauku
Ah, aku jadi ingat ibuku

Jika olehmu nyanyian itu belum juga bisa terdengar
Mampirlah sejenak ke pasar-pasar
Tempat kompromi pembeli pedagang saling tawar
Cabai dan bawang berbaris di kotak partitur
Mungkin akan ada sergah sumbang dari lapakan ikan
Percayalah, mereka tak sedang merutukimu
Hanya gelombang pasang kadang bikin hati meradang
Aku tahu betapa sulit menjadi nelayan
Karena dulu, ayahku seorang nelayan
Ia suka membawakan berikat-ikat ikan merah berdaging gurih nan lembut itu
Sekarang ayah lebih senang jadi guru
“Melautlah lagi ayah,” pintaku

Sebelum kau pulang ke negerimu, tengoklah aku
Di sini. Di dangau yang lebih hening dari rembulan
Aku simpan nyanyian tak kalah merdu. Untukmu
Bukan yang paling syahdu. Tapi tetap saja untukmu
Selain itu aku tak punya apapun
Tidak pula dangau, apalagi ladang ini
Dulu aku punya, tapi habis dirusak babi
Pernahkah kau diseruduk babi? Aku pernah sekali
Mataku berkunang, sendiku bersenyar
Setelah itu tak ingat apa-apa lagi
Andai kita telah saling kenal sebelum itu
Mungkin aku hanya akan ingat dirimu

Ada lebih lagi nyanyi-nyanyian dari negeri ibuku
Memang tak sampai berbilang sejuta
Tapi sedikit mendekati itu angka
Barangkali di negerimu ada nyanyian serupa
Bahkan mungkin lebih merdu
Namun tetap saja, nyanyi-nyanyian ini berasal dari negeri ibuku

Kata ayah : “negeri ini baskom bak cekung rahim perempuan”
Apakah itu jawabnya, mengapa aku selalu mendengar suara-suara saat hujan?
Suara tangis. Persis seperti perempuan
Mungkin rintihnya senyaring ketika aku dilahirkan
“Maka sayangilah ia,” pesan ayah kemudian
“Jangan biarkan menangis. Tidak sedetikpun
Walau hujan sedang turun”

Makassar, 05 Juli 07

Labels:

Wednesday, July 04, 2007

Soneta, Bilangan 4

Bukankah kau lebih aku dibanding diriku,
Seperti aku lebih kau ketimbang dirimu?
Tampaknya tak begitu
Dan katamu, harusnya tak seperti itu

Mungkin aku harus mengajari kau
Bagaimana hidup dijalani layaknya
Karena sungguh
Aku telah jadi kau sejak dulu

Rupanya kau tak butuh aku terlalu
Tidak sebagaimana aku merasa perlu
Menikmati rembulan berbaring di punggungku
Seiring musim semi yang tumbuh di keningmu

Sesalku setelah sekian lama meng-kau
Masih juga kau tak mau meng-aku

Makassar, 04 Juli 07

Labels:

Monday, July 02, 2007

ingatan, matamu dan waktu

ingatan, katamu, awalnya hanya halaman yang gersang
lalu datanglah waktu, si tukang kebun yang terlalu tekun,
menanam segala macam pohonan yang tumbuh rindang
dan dahan-dahannya masuk menembus jendela kamarmu
ikut berbaring di ranjangmu, kemudian diam-diam menyusup
menyelundup ke tidurmu, membuatmu setiap pagi terbangun
dengan embun merimbun di helai bebulu sepasang matamu

matamu, kataku, pada awalnya hanyalah langit yang lapang
lalu datanglah ingatan, si pelukis yang terlalu suka bermimpi,
menggambar segala macam peristiwa dari masa-masa silam,
musim hujan dan pelukanmu, awan tempat bermukim bulan,
dan senyummu yang lebih bunga dari tetumbuhan di halaman

di matamu ingatan terus tumbuh menjadi taman
di ingatanku matamu menampung seluruh waktu

Labels:

Tiga Soneta Buat Medha Aninditta

(1)

Pohon mangga depan rumahku. Terkurung di balik pagar
Kerdil, cuma bisa berbisik kecil
Merayu tetangga pekarangan seberang
Yang juga sepucuk pohon mangga sama kerdilnya

“Alangkah elok dirimu,” ucapnya penuh madu
“Sudikah kupeluk kau kelak suatu hari?”
Yang ditanya tidak mengelak tak pula mengiya
Hanya tersipu sembari desau menisik di dedaunannya

Dan setelah rindu mengendap dalam bilangan tahun
Pohon manggaku kini telah tinggi lagi rimbun
Dedahanannya tersuruk antara selangkang ranting
Pohon mangga tetangga yang pula tampak perkasa

Melihat sepasang pohon mangga depan rumahku
Desah menyelinap, “kapan kubisa rangkulmu seperti itu?”

Di bawah pohon mangga, 27 Juni 07

(2)

Hujan sepanjang hari ini, sayang
Aku tergeletak membaca Pram
Sembari mengemut sekeping gula aren
Pengganti permen. Manisnya membuat lapar terlupa

Tidak benar-benar lupa. Hanya sekedar tertunda
Karena lapar sendiri yang bisa buatku lupa
Pada keindahan apa pun di segenap ceruk bumi
Tak termasuk engkau. Sungguh.

Lalu kuputuskan menutup buku tebal itu
Dan janji membukanya lagi suatu waktu
Sebuah buku lain menyedot perhatianku
“Ah, kumpulan esai. Menarik.”

Kutelusuri tahun terbitan berikut tempatnya
: Solo. Aku langsung teringat dirimu.

Idefix, 27 Juni 07

(3)


Dalam episode mimpimu. Yang paling kelam sekalipun
Bayangnya tak pernah punya ruang
Haruskah menyelinap?
Seperti bulan yang mencuri waktu tidurnya

Dalam tangis sedihmu. Yang paling gersang sekalipun
Sosoknya tak kunjung dapat celah
Nyaris terendap
Karena cintanya pada yang terlelap

Dalam bait syairmu. Yang paling picis sekalipun
Namanya tak juga miliki tempat
Termadah luruh
Direngkuh bahu seorang rapuh

Dia bukan mau sepi
Dia hanya ingin sendiri


Rumah badai, 29 Juni 07

catatan: Sedikit banyak inspirasi itu datang dari lirik
"Across the Night", sebuah lagu milik Silverchair.

Labels: